Cobalah kau berdiri, saat sendi-sendi kaki menegang dan mematikan senyummu. Kemudian berucaplah ke arahku, apa rasanya?
Atau cobalah berjalan keluar sebentar, bila kini tepat posisi berada pada suatu tempat yang tertutup atau memang sengaja ditutup.. Lalu datang padaku, ucapkan padaku, apa rasanya?
Dan bila tak berkeberatan, cobalah berlari sekuat-kuatnya diatas duri-duri yang menusuk, selagi kakimu menegang pula, saat baru saja melepas diri dari ketertutupan, atau mungkin saat tangan-tangan melemah, jemari ogah, tubuh jengah, terlebih hati yang hilang gairah.....
Sementara ada saja dan akan selalu ada alasan untuk tidak terdiam. Bagaimana?
Apa yang dirasa?
Akankah menyalahi kesendirian?
Sampai hatikah meneriakkan ketidakmampuan?
Tidakkah malu dengan anugerahNya dan tangan-tangan yang melewatinya dahulu?
Ah bukan, dengan si-Nya itu??
Bagaimana rasanya?!
Atau begini..
Bagaimana rasanya lirikan tajam berpasang-pasang mata, dengan rona wajah yang marah; sebab kecewa, sebab tak menyangka, sebab-sebab semua sebab.
Mungkin juga begini..
Bagaimana rasanya sapaan lembut dari lisan-lisan yang membuat hati tersudut.
Dan mungkin barangkali hanya begini, sesederhana ini.
Bagaimana rasanya mendapati mata-mata dengan sorot lembutnya, senyum paling manis bagi si pembuat senyum, dan jabatan tangan sepersekian detik. Persis bagai... Ah apa ya?
Hhh..
Bagaimana rasanya?
on Friday, May 20, 2011 at 7:07am
No comments:
Post a Comment