Saturday, May 21, 2011

tentang rasa.

Cobalah kau berdiri, saat sendi-sendi kaki menegang dan mematikan senyummu. Kemudian berucaplah ke arahku, apa rasanya?
Atau cobalah berjalan keluar sebentar, bila kini tepat posisi berada pada suatu tempat yang tertutup atau memang sengaja ditutup.. Lalu datang padaku, ucapkan padaku, apa rasanya?
Dan bila tak berkeberatan, cobalah berlari sekuat-kuatnya diatas duri-duri yang menusuk, selagi kakimu menegang pula, saat baru saja melepas diri dari ketertutupan, atau mungkin saat tangan-tangan melemah, jemari ogah, tubuh jengah, terlebih hati yang hilang gairah.....
Sementara ada saja dan akan selalu ada alasan untuk tidak terdiam. Bagaimana?
Apa yang dirasa?
Akankah menyalahi kesendirian?
Sampai hatikah meneriakkan ketidakmampuan?
Tidakkah malu dengan anugerahNya dan tangan-tangan yang melewatinya dahulu?
Ah bukan, dengan si-Nya itu??
Bagaimana rasanya?!

Atau begini..
Bagaimana rasanya lirikan tajam berpasang-pasang mata, dengan rona wajah yang marah; sebab kecewa, sebab tak menyangka, sebab-sebab semua sebab.
Mungkin juga begini..
Bagaimana rasanya sapaan lembut dari lisan-lisan yang membuat hati tersudut.
Dan mungkin barangkali hanya begini, sesederhana ini.
Bagaimana rasanya mendapati mata-mata dengan sorot lembutnya, senyum paling manis bagi si pembuat senyum, dan jabatan tangan sepersekian detik. Persis bagai... Ah apa ya?
Hhh..
Bagaimana rasanya?


on Friday, May 20, 2011 at 7:07am

tentang anda.

Bukan hal yang mudah menyamakan persepsi dengan kebisuan, pun dengan gerakan nyata, meski memang tak seberapa..
Bukan hal yang mudah memberikan berpatah-patah kata untuk menjadikan sama pada berbagai mimpi yang ingin diwujudkan..
Juga hal yang tidak mudah menyelaraskan gerak pada bait-bait imaji yang kerap menari-nari, walau bertahun-tahun sudah..
Masya allah... Ini zhalim namanya.. Ini lalai namanya.. Ini pasti bukan cerminan yang baik.
Ingat baik-baik, apapun yang terjadi, jelas-jelas tertanam sudah makna itu. Bahwasanya posisi di luar ini bukanlah yang tepat untuk dikatakan salah.
SEMUA ANDA LAH PENYEBABNYA!!
Segala keterpurukan, ANDA pelakunya.
Segala ketidakberjalanan, ANDA yang mematikannya.
Semua. Semua-semuanya tanpa terkecuali.
Ya. ANDA SALAH!
Lalu, berani untuk beranjak?
Dengan beragam tindakan logis yang melatarbelakangi keberanjakan.. Berani? Tetap berani?
ISTIGHFAR!!!

on Thursday, May 19, 2011 at 11:15pm

Sunday, May 8, 2011

enam huruf..

kepada malam yang mengantarkan pagi atas perintahNya..
kepada dingin yang merasuk hingga bangunkan tiap helai rambut pada tubuh..
kepada kebisuan yang berteriak dalam riak-riak kerinduan..
atau sekedar ketulusan yang mungkin lebur dalam tatap ucap bahagia-bahagia nya..
sentuhan lembut pada ringkihnya jiwa yang merintih tertatih memang takan pernah terlupakan, meski seringkali hujan hadir menghujam coba menghapus tiap lembut sentuhan itu.. atau bahkan kerontang  terik kala sang matahari bertahta dengan angkuhnya, sungguh takan hadirkan kehausan-kehausan yang berkelanjutan.
sebab cukup!
sangat cukup!
akan selalu cukup..
untuk tiap senyum yang merekah, terimalah..
untuk tiap luka yang digoreskan, maafkanlah..
bercerminlah..
seperti penjaga lima huruf kala itu.......... datang dan pergi tanpa beban.. hilang ya sudah, ada lantas alhamdulillah...
atau seperti sayyid qutb dengan senyuman memabukkan kala mendekat pada ketetapan atasnya... memabukkan........ menjungkirbalikkan waras sang penjaga.. ah bukan, bukan,, hanya saja ketulusan memang akan selalu terlihat tulus, ia kian terjaga sedemkian rupa-pada setiap mata yang melihat-pada setiap telinga yang mendengar-ah pasti terasa pun pada hati-hati yang mati rasa....
itulah betapa sulitnya menjaga diawal-tengah-hingga akhir..
oh perjuangan.....................
hati.....
mau.... ingin.... harap....
segala macam nama atas rasa...
dan maaf, hanya ini yang ku tangkap dari pertemuan kala itu.. sebegini saja mampuku mencerna tiap bait suara kala itu. banyak, banyak hal yang terlewat dalam pengabadian ini. ya memang beginilah aku (ah? apa??) ketika sore dengan nafas-nafas ruhiy yang mulai melemah-namun takdir Ia gariskan untuk masih terjaga, tertolong (dan Ia tak pernah terlambat sedikitpun), hingga mengepal jemari memekikkan azzam dalam dada: ikhlas kan.. ikhlas lah...